Setiap Amalan Tergantung Niatnya II

Monday, March 11, 2013

Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda "Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya tergantung dari niat. Dan sesungguhnya, setiap orang hanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa ber-hijrah untuk memperoleh ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah-nya akan memperoleh ridha Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrah-nya untuk mendapatkan dunia, atau untuk mencari wanita yang akan ia nikahi, maka balasan hijrah-nya sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Islam adalah agama etos amal yang positif. Misinya berada di tengah-tengah kehidupan nyata. Islam menciptakan banyak sektor yang sangat luas untuk mengerjakan sesuatu yang makruf, dan mengajak manusia untuk mengenakannya demi kecintaan pada kebaikan dan demi mencari keridhaan Allah. Islam tidak menginginkan amalan-amalan itu hanya sekedar bentuk yang bersifat lahiriah-lahiriah saja, seperti riya’, tipuan, dan sandiwara. Melainkan, Islam menginginkan hasil nyata dan isinya, seperti kebenaran, kejujuran, dan menyampaikan amanat.


Dari sinilah, hadits Nabi saw diatas, muncul untuk menyinari jalan orang-orang yang menjalani kehidupan ini, dan juga untuk menjelaskan kepada mereka tujuan mulia yang hendak mereka capai, supaya tidak tersesat ketika berjalan. Hadits ini membangun sebuah menara (cahaya) petunjuk di dunia yang sedang diliputi oleh kegelepan-kegelepan napsu, sehingga sebagian besar penghuninya sudah digerakkan oleh niat-niat yang palsu.
"Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya tergantung niat." Demikianlah, ungkapan jujur yang memberikan batasan. Maksudnya, semua perbuatan dan ucapan itu tidak dianggap benar, sempurna, dan dapat diterima di sisi Allah, kecuali berdasarkan niat-niat yang baik serta faktor-faktor yang mulia. Niat bermakna menyengajakan berbuat sesuatu berbarengan dengan mengerjakannya. Nilai amal itu bersumber dari niat-niat yang tersembunyi dibaliknya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata :"Aku menyukai setiap orang yang melakukan amal berupa shalat atau puasa atau sedekah atau jenis kebaktian apa pun, asalkan sebelum melakukannya sudah didahului dengan niat." Al-Fadhel bin Ziyad pernah bertanya kepada imam Ahmad bin Hanbal : "Wahai Abu Abdillah, bagaimanakah niat itu di dalam amal?" Beliau menjawab, "Jika hendak melakukan suatu amal, seseorang harus konsentrasi penuh dengan mengabaikan sesama manusia."

Sufyan ats-Tsauri berkata :"Aku tidak pernah mengatasi sesuatu yang begitu memberatkan aku melebihi niat. Karena, niat itu membolak-balikkan aku."
Pada suatu hari Nafi’ bin Jubair ditanya oleh temannya yang hendak melayat jenazah : "Apakah Anda hendak melayat jenazah? " Nafi menjawab, "Ya, seperti yang kau lihat. Namun, aku harus niat terlebih dahulu." Setelah nampak berpikir dan berkonsentrasi sebentar, tiba-tiba ia berkata, "Ayo kita berangkat!." Dan dengan penuh semangat ia begitu yakin bahwa langkahnya benar-benar tulus, tanpa dicampuri oleh tujuan-tujuan yang lain.
"Dan sesungguhnya, setiap orang hanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya." Artinya, kebaikan dan kerusakan suatu amal itu tergantung dari niat yang mendorongnya. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa balasan pahala yang diperoleh oleh orang yang ber-amal atas amal-nya itu tergantung dari niat-nya yang baik. Begitupun sebaliknya, siksa yang harus ditimpakan kepadanya tergantung dari niat-nya yang jelek. Pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain adalah niat. Seperti beda antara shalat ashar dengan shalat zhuhur, atau beda antara puasa Ramadhan dengan puasa sunnat, atau beda antara puasa untuk membayar kafarat, dengan puasa melaksanakan nadzar, atau juga beda antara shalat sunnat dengan shalat fardhu.

Dengan niat pula, bisa dibedakan antara ibadah dengan tradisi atau kebiasaan. Contohnya, seperti beda antara mandi junub dengan mandi yang hanya untuk memperoleh kesegaran tubuh atau mandi untuk membersihkan badan. Atau juga seperti beda antara puasa untuk menjalankan kewajiban, dengan puasa untuk memperoleh kesaktian atau untuk penyembuhan penyakit misalnya.
Dan dengan niat pula lah, bisa dibedakan tujuan suatu amal, dan bisa ditentukan pula kemana arahnya. Apakah itu untuk mencari keridhaan Allah semata atau untuk selain-Nya? dan tidak ada sedikitpun tujuan karena Allah disitu. Atau amal itu untuk berbarengan antara Allah dengan selain-Nya? Niat dalam arti seperti inilah, yang mengungkapkan keikhlasan, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh para ulama yang membimbing kepada kebenaran, dan yang banyak berlaku dalam ucapan ulama-ulama salaf terdahulu. Niat dalam arti seperti inilah, yang sering disebut-sebut dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw sebagai sebuah ungkapan hasrat untuk mencari keridhaan Allah SWT.  
Allah SWT berfirman : "Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian juga ada orang yang menghendaki akhirat"   
"Dan janganlah kau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya"   
"Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi"

0 komentar:

Post a Comment