Tips Menjadi Pegawai Teladan

Monday, June 6, 2016
Menjadi Pegawai Teladan adalah impian semua orang. Di percaya oleh rekan kerja bahkan pimpinan pun adalah keinginan kita agar produktivitas bekerja mencapai titik maksimal dan menghasilkan kinerja yang baik. Berbagai macam tips dan trik telah dilakukan namun tidak akan ada hasil jika tidak ada motivasi penuh dari dalam diri serta tidak luput bantuan atau support dari orang - orang tercinta kita. Berikut ini Tips menjadi Pegawai Teladan berdasarkan metode Modifikasi Perilaku dengan teknik Self Management. Semoga dapat memberikan manfaat bagi mereka yang ingin menjadi pegawai teladan.
#Psikologi #Universityof MuhammadiyahMalang #BehaviourModification #SelfManagement #Success #Leadership

Untitled 2

Thursday, February 26, 2015

Dengarkah kau lantunan diamku? Jika ya, rasakan erat lapisan pori-poriku. Pandanglah ke ufuk. Dimana matahari merasakan senyuman merekah, dimana nafas mengukir sebuah janji, darah mengalirkan kata yang tak terjawab. Kupercaya kelak tangan akan merapuhkan sentuhan, perpisahan pasti datang apa adanya, tetapi yakinlah, perpisahan bukan akhir segalanya, bukan pula arti dari sebuah pelepasan dan akhir dari sebuah pertikaian,
Tapi sebuah penantian pertemuan abadi dalam dimensi keabadian.

Langkah kakiku merapat, rapat, rapat, dan lumpuh, sampai-sampai tak dapat lagi kurasakan urat nadi dari alas kaki. Apakah ini? Kuhentikan pijatanku, kuhentikan tarikan jemariku, kumantapkan nafas sepersekian detikku. Kuterjerat oleh kawat tanpa duri menali dua bola mataku dengan erat tertuju fokus pada jendela tanpa fondasi. Sesosok gadis kecil berserabut hitam kelam yang terurai sampai bahu datang menghampiriku. Tunggu! kumencoba mengolah kognisi, memantapkan penglihatan, buffering, tubuh mana dulu yang harus kuperintah, tangankah? Kakikah? keduanya? atau... Bruaakkk, sakit, berat. Dengan cara yang kasar dan sempat mengejutkan sarafku, ia berada tepat di atasku, badannya bersentuhan dengan kulit ariku.
"Hiks,..hiks,.hu, huaaa" eeh, menangis? kenapa menangis? seharusnya akulah korbannya, merasa kesakitan karena tiba-tiba ia terjun di atas kepalaku, menindihiku, dan saat ini sedang berusaha mencoba bertahan untuk tidak menangis pula. Tapi, dengan cepat ku menegakkan badanku dan menatapnya perlahan. Perlahan memasuki lorong irisnya. Berhenti? Tangisannya berhenti? Eh kenapa malah ekspresi wajahnya berubah, tatapan matanya tertuju tepat ke wajahku dengan pupil yang membesar dan semakin membesar, sampai-sampai sisi lain matanya susah untuk dibedakan, menyatu, tanpa batas.
"Si , si, siapaa kau?" ekspresi wajah menunjukkan rasa ketakutan dan bingung seakan-akan ia berada dalam kawanan heyna. Eh aku? Kau bertanya padaku, seharusnya pertanyaan itu untukmu. Ku berusaha menenangkan diri, ku tegapkan tubuh mencoba meraih secarik kertas putih dan potongan kayu yang tlah diraut di atas meja bernyanyi, kurajut kata perkata ke dalamnya.
" Kenapa kau bisa kemari?"
"A, aku terjatuh dari tempat yang tinggi sekali"
"Apa yang menyebabkanmu terjatuh, tolong ceritakan awal mulanya sebelum kau terjatuh dan akhirnya berada disini, menindihku"
"Aku tak tahu..." balasnya polos. Apa barusan yang kudengar?
"Bisakah kau mengulanginya sekali lagi?"
"Aku tidak mengingat apapun, satupun, yang kutahu aku terjatuh dan keberadaanku disini." Heh, amnesia katamu? Haruskah kupercaya? Tidak, tidak ada seorang pun yang dapat bersinggah di tempat tenangku ini. Haruskah kupasang penghalang agar tak ada mahkluk lain yang mengacaukan tempat ini. Yah, sama saja alhasil kebobol juga. Siapa sesungguhnya gadis ini. Ugh, lupakan! akan kusambung permainan melodiku lagi bersama meja bernyanyi. Ku tak peduli dengannya. Tanpa menghiraukannya kubersiap memetik balok hitam-putih

**

Tetap melihatku dengan bola mata hitam pekatnya, memerhatikan setiap inci tarian jari jemariku, ke kanan, ke kiri, matanya mengikuti ayunan jariku.
"Permainan melodi yang indah, teruslah bermain, jangan berhenti, ijinkan kumerasakan ritme klasik yang kau ciptakan." Ku hanya bisa menganggukkan kepala. Keteruskan permainanku bersamanya. Sosok asing dari langit yang datang tiba-tiba dengan atraksi jatuhnya. Sudah 4 hari ia tersekap di tempatku ini, memintaku terus bermain. Tersadar duniaku yang sekarang telah tercipta ruang dimensi dunia lain baginya juga. 

**

Detik demi detik, menit demi menit, jam tak mau kalah dengan mereka, disusul hari dan minggu, keeksistensiannya melukiskan dimensi baru bagi ruang kecilku yang mungkin juga ruang isi emosiku, emosi?
"Akankah kau tetap bermain meskipun kau tak dapat lagi mengayunkan jarimu?" tanyanya polos mendekati meja bernyanyiku. Lekas ku ambil lembaran baru yang masih tersisa dan menuliskan kata penghubung kepadanya.
"Aku tak akan pernah berhenti bermain, sampai ku merasa bosan."
"Lalu kapan kau mulai merasa bosan?" sahutnya lagi penasaran dengan terus menatapku. "Diriku sendiri juga tak tahu kapan rasa bosan itu datang, tapi kuberharap, ku tak menemukan kebosanan itu, kuingin terus dan terus memainkan ritmeku sampai semua tersampaikan."
"Siapa yang kau maksud? untuk siapa kau memainkan ritme ini?"
"Untuk seseorang yang tak pernah ada..." kuterdiam sejenak menatap penuh masuk ke jendela jiwanya.
" Dan kelak menjadi ada" sambungku perlahan.
"Akankah aku bisa menjadi bagian darinya?"
"Untuk apa kau memohon, dari sebelum-sebelumnya kau sudah tercipta untuk menjadi bagian dari ritme ini." Ku alihkan pandanganku menatap langit tanpa batas lalu sedikit ekor mataku melihat ke arah pancaran wajahnya, senyuman tipis nan hangat dengan penuh serpihan keharmonian merekah darinya. Kulanjutkan petikanku ke permukaan hitam-putih meja bercua, kuterbayang, bayangan yang tak terbayang, abstrak, gelap menjadi terang benderang tanpa sekat dan serat. Polos layaknya pancaran wajah dari gadis kecil itu. Akankah waktu menjawab permohonanku, akankah angin, air, dan embun, merangkai kataku menjadi sebuah lisan tak terucap, akankah aku dan dia menjadi suatu ketiadaan. Sejauh mana melodi ini mengalir dan terbang...

***

Ketika..

Monday, October 6, 2014
ketika hujan merasakan indahnya pelangi 
ketika terik merasakan hangatnya cahaya 
ketika malam merasakan indahnya rembulan 
ketika pagi merasakan hangatnya mentari 

Dan ketika salju merasakan indahnya musim semi 
ketika angin merasakan hangatnya udara 
ketika waktu yang kita rasakan berhenti 
ketika terakhir ucapku terimakasih



Si Pulang

Bulumu lembut bagaikan sutra
Warnamu putih seperti tulangmu
Wajahmu jantan ganas
lompatanmu bagaikan trampolin pecah tak ter elak
Suaramu menggeletarkan daya magnetku
seakan- akan kau menarikku ke duniamu
Kehadiranmu membuatku gaduh
Tapi tanpamu aku rindu


Koko Kara

Dinginnya musim hujan yang menusuk tulang rusuk
Akankah kau tetap disini menantiku
Musim panas yang membakar kerinduanku
Akankah kau tetap datang menemui bayangku
Apakah hanya aku seorang yang merasakanmu
Bolehkah aku?
Bisikan mu yang meggetarkan hatiku
Genggaman tanganmu yang mengisi ruang jemariku
Pelukanmu yang menghangatkan jiwa ragaku
Tulisan tanganmu yang memberikanku senyuman
Akankah kau tetap disini
Bersama ku?
Koko kara..


Pudar

Malam menepis kerinduan
Hati gundah terbayang
Dalam kesunyian, ku termangu
Terdiam

Melesat jauh anganku
2 tahun yang lalu
Ketika kau tertidur dipangkuanku
Kubelai bulu emasmu
Ekor yang slalu ingin dimanja

Sang Fajar
Bergumam di ufuk Timur
Biasa,
Sebutir biskuit di dalam cawan
Kau manjakan perut kecilmu

Pagi itu tampak biasa
Ku tepis segalanya
Segala kegundahan dalam dada
Yang kuingat hanya geli tawa manismu

Kulempar segalanya
Dengan langkah tegap
Kumelangkah menuju jalanMu

2 tahun lalu
Di malam nan sunyi
Mengisyaratkanku tentang secercah ingatan
Menghampiri keningku
Sang Dewi malam

Fajar  menunjukkan riasnya
Memancarkan pesonanya
Kutepis segala kegalauan
Yang teringat hanyalah tawa geli manismu

Kau muncul di perapian
Parasmu yang galak tapi lembut
Bermain bersama api
Mengaung bagaikan alunan melodi senja

Sehelai kain tipis bergelantung di atas jendela
Mengayun mengikuti irama
Saat itu kau sedang bermimpi pulas
Di selimuti kain merah delima
Akankah sekejap waktu ini terus mengalir?

Senja meredup
Kutepis segala kegundahan
Yang teringat hanya tawa gelimu
Masih teringat pesan sang dewi malam
Dengan isyaratnya kucoba merangkai
Terdiam

2 tahun lalu
Dalam gelap yang sama
Ku hanya berdiri
Memandang raga
Tak bernyawa
Di seberang rawa tak berpenghuni
Angin membelai rintikan air mata tak berair
Bersama dewi malam
Bersenandung kedukaan


Goldilocks and the Three Bears (Spoof)

In the morning near the fireplace.
Sesa: daddy, daddy, look what I’ve found!
Daddy bear: what is it?
Sesa: look at this! (show and hand over the old picture)
Daddy bear: hoo where you found it?
Sesa:
in the box in grandma’s room.
Daddy bear: mm,.. how nostalgic.
Sesa: whos that ugly girl?
Daddy bear: well, come closer, daddy will tell you a story.
Sesa : yayy!
Daddy bear: Once upon a time in a large forest, close to a village
 …….., stood the cottage where the Teddy Bear family lived. They were not really proper Teddy Bears, for Father Bear was very big, Mother Bear was middling in size, and only Baby Bear could be described as a Teddy Bear. (Narrator)

Mummy bear: oh noo! You said she has a new boyfriend now! Wow I can’t believe it! She married 7 times with other male lions.
Daddy bear: *open the door. Hey I got 3 pumpkins, let’s cook pasta tonight! Hoho..
Little bear: daddy, daddy, She rejected my request friend again on facebook.
Daddy bear: aah how mean! Maybe next time she will!
Little bear:
but this already the 13th time she turned me down.
Daddy bear: eh really! Tomorrow daddy will block her facebook.
Little bear: no dad, it’s okay. I’ll send a message to her.
Mummy bear: dear, please call Mrs. Giraffe to pick up me now! Today I have gathering at mother elephant house with others mother animals. Please watch little bear, okay.
Daddy bear: oh yes sweet heart, leave it to me.


Knock, knock. *Someone knocked the door
Mrs. Giraffe: hello anybody home? Hello?
Daddy bear: ah wait! Wait!
Ms Girrafe: c’mon we will be late if we don’t hurry!!
Mummy bear: I got it! I got it! Well, bye dear…
Daddy bear: byee…

In other place, Not far away, lived a fair-haired little girl who had a similar nature to Baby Bear, only she was haughty and stuck-up as well, and though Baby Bear often asked her to come and play at his house, she always said no.
Goldilocks: Stuart! Stuart! Buy me a new dress now!
Stuart: e, eh, but you already bought it yesterday ?
Goldilocks: This one is too old, not suit me anymore!!
Stuart: eh okay, I will buy one for you.
Silent…..
Goldilocks: now!!
Stuart: A, allright………..
Open Laptop.
Goldilocks: Aah I’ve too many friend requests. 1,2,3,4.. who is it? I don’t know him at all. Well, delete request, delete, delete. Samuel Handokoclalucayangkamuach, absolutely deleted! Hoo This kid! Little Bear.
Stuart: I’m back, I’m back! I got a new dress for you lady~
Goldilocks: I said red dress!! Not black!
~*~
Sesa: I don’t like Goldilocks, she had bad attitude.
Daddy Bear: haha is that’s so, but the story has just begun. One day Mother Bear made a nice pudding. It was a new recipe, with blueberries and other crushed berries. Her friends told her it was delicious.
Sesa: I wanna eat pudding too
Daddy : Daddy will make you one tomorrow.
Sessa : Now !! *tee-hee
The next morning at The Family Bear’s house
Mummy Bear: ah done!
Little Bear: yayy pudding!
Daddy Bear: may I taste it now?
Mommy Bear: nope!
It has to be left to cool now, otherwise it won't taste nice. That will take at least an hour
Little Bear: She rejected my request again. Mummy, mummy. A new mail!
Daddy bear : let me see~
Ah This is from Beaver family. They invite us to their house now.
Mommy Bear : Aha. Why don't we go and visit the Beavers' new baby now? Mummy Beaver will be pleased to see us.
Little Bear and Daddy Bear : Hoo Babby! !

At The Beaver Family House
Knock, knock, knock
Little Beaver: eh whos coming now? *check the door
Family Bear: Bonjour~
Little Beaver: hoo welcome!
Daddy Beaver: Come in, come in. You finally come, this way! You have to see it. The Babby is so cute.
Little Beaver:  hey Teddy, I have a new game now. Please play with me.
Little Bear: Ah is it really okay? What game anyway?
Little Beaver: Ulun Man and Pig Man who Attack On Titans!!
Little Bear: awww, that’s cool!
Little Bear: Let’s play it now!
Little Beaver: Allright! Come to my room now!


~*~
Daddy bear: A short time later,
……the stuck-up little girl, whose name was Goldilocks, passed by the Bears' house as she picked flowers. (Narrator)
Goldilocks:  Oh, what an ugly house the Bears have! I'm going to peep inside! It won't be beautiful like my house, but I'm dying to see where Baby Bear lives.
Before Goldilocks knocked the door, someone called her..
Stuart: Goldilocks, Goldilocks where are you?
Goldilocks: oh no! hey Im here!
Stuart: Ah There you are! Look at these flowers, how pretty!!
Goldilocks: ssst, you stay here, okay
Stuart: eh whos house is it? You wanna enter?
Goldilocks: just stay here kay!
Stuart: ah yes ma’am!! Please, be carefull
Goldilocks: (open the door) anyone at home ??
hmm nice smell,
A pudding !
(dipping her finger into the pudding Mother Bear had left to cool). Quite nice!! I will try another XD .
At the front of the door
Stuart:  I hope shes allright
Ring .. ring (ringtone)
Stuart: yes, Stuart here. Ah yes ! yes! I will be there now! Just wait.
On the Kitchen
Goldilocks: Now then, this must be Father Bear's chair, this will be Mother Bear's, and this one is Baby Bears. I'll just sit on it a while.
Crack,..crack bum! Goldilocks crashed to the floor.
Goldilocks: so boring!! Ill go to the next room.  Mm! Quite comfy!
yaawn~  so sleepy, just a little ~
At the outside…
Daddy Beaver: This house never change before. I like your house.
Daddy and Mummy Bear: ah thanks.
Little Beaver: Please show me The series one from The Ulun Man and Pig Man dance on the Night Train, okay?
Little Bear: roger !
Little Bear: mummy, mummy, wasn't the new Beaver baby ever so small? Was I as tiny as that when I was born?
Mommy Bear: Not quite, but almost.
Daddy Beaver: When
Daddy Bear: Hurry! Someone is in our house!!

They dashed into the kitchen.
Daddy bear: I knew it! Somebody has gobbled up the pudding.
Mommy: Oh my!!
Someone has been jumping up and down on my chair!!
Little Bear: somebody's broken my chair!
Daddy Beaver: Where could the culprit be?
Little Beaver: how scary!?

They all ran upstairs and tiptoed in amazement over to Baby Bear's bed. In it lay Goldilocks, sound asleep.
Father Bear: Hey *point to Goldilocks
Baby Bear prodded her toe.
Goldilocks: mm.. Who's that?
Father Bear: That was should be my question.
Goldilocks: Where am I? aah! *surprised
All: aaah!!
Stuart: Eh whats happen?
All and Goldilocks: ??
Goldilocks: c’mon Stuart, we leaving now!!
Stuart: eh wait!! Whats happen?
Goldilocks: just hurry up!
Little Bear: hey don't run away! Come back! I forgive you, come and play with me! And please accept my request friend!
Daddy Bear: oh yeah!! If not I will block your facebook account!
Goldilocks: very well, please don’t block my account!
Little Beaver: hey if you play with us. I will let you to play Ulun Man and Pig Man who attack on titans.
Goldilocks: Stuart! Please tell mother that I will come late.
Stuart: yes lady! Leave it to me!
~*~
 Daddy Bear: And this is how it all ended. From that day onwards, haughty rude Goldilocks became a pleasant little girl. She made friends with Baby Bear and often went to his house. She invited him to her house too, and they remained good friends, always.
Sesa: aah good story.
Ah! Dad! Are you little bear.. on the story ?
Daddy bear: haha yes I am ^^
Sesa: And where is she now?
Daddy Bear: I dunno, but I hope she will allright
Sesa: Dad you still have that game?
Daddy Bear: …..

-THE END-