Divine

Monday, March 11, 2013

Kau hanyalah seikat bunga layu,
yang dibuang di tanah berpaku,
berguling-guling tak berderu, 
di telan pasir berpenghisap peluru.

Kau hanyalah seutas tali kusut,
berjalan berliku-liku,
tampang wajah pilu,
membawa sepenggal tabung,
berisikan kata rindu.

Kau hanyalah sebongkah batu,
menunggu ditelan rindu,
lelah lesuh memburumu,
memandang wajah acuh tak acuh,
tak ada yang peduli padamu.

Kau hanyalah sebutir debu,
ditemani alunan sendu,
tertawa menangis memohon ampun,
sampai maut menjemputmu.
Akankah Sang Kasih merangkulmu?

Sakura, I love you


Dalam dekap ini, kurasa kehadiranmu,terbayang sedang apa kau di situ.
Inginku tepis semak-semak rimba yang menghalangiku,
agar kugapaikanmu.
Siang mengemis, malam menangis.
Hanya bayangmu yang ku rindu.
Ntah bagaimanaku hapuskanmu,
walau terkadang kubergantung.
Menatapmu ku tak mampu.
Tak kuijinkan hati ini berteriak membisu.
Seakan-akan ku remuk dan rapuh dalam bayangmu.
Cukup sudah, aku tak sanggup.
Haruskah ku bernyanyi dan bersiul.
Agar kau menyadariku,
bahwa ku telah jatuh di liang matamu. 

our happiness is my happiness

Ini bukanlah sebuah puisi, 
bukan pula pantun, 
ataupun kumpulan paragraf cerita.. 
surat ini aku sampaikn kepdmu, 
yang sedang gundah hatinya. 

ketika hujan merasakan indahnya pelangi 
ketika terik merasakan hangatnya cahaya 
ketika malam merasakan indahnya rembulan 
ketika pagi merasakan hangatnya mentari 

Dan ketika salju merasakan indahnya musim semi 
ketika angin merasakan hangatnya udara 
ketika waktu yang kita rasakan berhenti 
ketika terakhir ucapku terimakasih

Omoi


Imajinasiku melesat
Melesat tinggi tak berujung
Menuju keajaiban

Sudah kutunggu-tunggu
apakah kehadiranmu
Adalah harta pemberian sang agung

Merunduk,
aku termenung
Merangkai puzzle kehidupan
roda kehidupan tetaplah berputar
Akankah ku sanggup

Sigh..
seperti jiwiran, ntah bagaimana rasa sakitnya
Manekin-manekin menatapku penuh kehampaan
tersudutkan.
Ntah salah siapa, anjing tetap menggonggong
Salahkukah?
Jauh! jauh!
bagaikan palung dengan permukaan.

Aku ingin tertawa,
yaah tertawa
Meskipun aku tak dapat mengembalikan derasnya hujan yang tlah turun.
Pergilah menjauh.
Karena alunan melody yang telah rusak tak dapat diputar kembali.
Mungkin ini hanyalah sementara
Memang benar,
hilang sudah. Hilang.

Manekin


Satu.
Aku adalah satu saat ini
Satu.
Cahay masuk ke dalam lubang kehampaan
Satu.
Mati, hening dalam kesendirian

Satu.
Tidak adakah penggerak yang menggerakkan dalam kehampaan
Jika memang itu sengaja untuk digerakkan
Satu.
Tatapan kosong yang menuju ke lubang tak tampak
Sampai kapan seperti itu.

Satu
Dalam kegelapan hanya sinar yang dapat menjangkau
Meskipun hanya beberapa partikel
Satu
Yah, tetap satu.
Mengapa ku bukan termasuk ciptaan mu
Mengapa k tak dapat menjangkau cahya sucimu
mengapa?
inikah rangkaian teka-teki mu

Satu
Sampai kapan ku tetap seperti ini.
Satu
hanya satu yang tersentak dalam seratku
Yaitu
Satu
Aku ingin hidup.

The Powerful of Friendship


Aku tak tahu apa arti sahabat,
tapi yang jelas tanpanya aku kan merasa kesepian.

Aku tak pandai melukiskan keindahan persahabatan,
tapi yang jelas aku merasa senang jika di sekitarku ada sahabat

Aku dulu berpikir sahabat akan selamanya bersama,
namun tiada yang abadi,
adanya pertemuan mengisyarakatkan akan adanya perpisahan,
begitu pun dengan persahabatan.

 Hanya do’a yang kan ganti menemaniku dan kamu, sahabatku…
 Jika memang ikatan persahabatan ini kan kekal,
 Selayaknya kita akan bertemu di surga nanti.

Weird Night


Tak tik tuk..
Detakan waktu..
Tengah malam telah tiba..
Rembulan bersiul sunyi..
Angin menari..
Kegelapan menyelimuti malam..
Boneka-boneka masih tertidur dalam bayangan..
Tak tik tuk..
01.00 am
Kacamata ini masih nampak
Mesin ini masih bekerja..
Tapi, boneka masih tertidur lelap,
Dalam bayangan gelap..
Tak tik tuk..
Waktu berlalu..
Otak mulai matang..
Retakan kacamata nampak..
Bara api mesin marah..
Tak tik tuk..
Sudah berakhir..
Hanya segini sajakah..
Lelah,
sungguh lelah..
Tak tik tuk..
Roda waktu terus tetap berjalan..
Menghadapi tengah malam..
Tak bisakh itu berganti..
Tak tik tuk..
Masih tetap berdetuk..

Wake me Up


Kuanggap ini maya..
Kuanggap ini fantasy..
Kuanggap ini supernatural
Kuanggap ini mecha
Dan bnyk anggapku
tring, tring, tring
alarm bernyanyi,
aku tahu lagu ini
lagu yang dapat melenyapkan semua anggpnku..

Salah satu harta karun terbuka
Disana ada malaikat putih bersayap emas.
Yang mengendalikan peti angan-angan
Mereka saling berdebat satu sama lain
Malaikatlah sang pemenang

Bukan waktu yang menunggu
Aku tersentak
Cahaya mentari tiba
Seakan menyambut kedatangan kemenangan

Setiap Amalan Tergantung Niatnya II


Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab menuturkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda "Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya tergantung dari niat. Dan sesungguhnya, setiap orang hanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa ber-hijrah untuk memperoleh ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrah-nya akan memperoleh ridha Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrah-nya untuk mendapatkan dunia, atau untuk mencari wanita yang akan ia nikahi, maka balasan hijrah-nya sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Islam adalah agama etos amal yang positif. Misinya berada di tengah-tengah kehidupan nyata. Islam menciptakan banyak sektor yang sangat luas untuk mengerjakan sesuatu yang makruf, dan mengajak manusia untuk mengenakannya demi kecintaan pada kebaikan dan demi mencari keridhaan Allah. Islam tidak menginginkan amalan-amalan itu hanya sekedar bentuk yang bersifat lahiriah-lahiriah saja, seperti riya’, tipuan, dan sandiwara. Melainkan, Islam menginginkan hasil nyata dan isinya, seperti kebenaran, kejujuran, dan menyampaikan amanat.


Dari sinilah, hadits Nabi saw diatas, muncul untuk menyinari jalan orang-orang yang menjalani kehidupan ini, dan juga untuk menjelaskan kepada mereka tujuan mulia yang hendak mereka capai, supaya tidak tersesat ketika berjalan. Hadits ini membangun sebuah menara (cahaya) petunjuk di dunia yang sedang diliputi oleh kegelepan-kegelepan napsu, sehingga sebagian besar penghuninya sudah digerakkan oleh niat-niat yang palsu.
"Sesungguhnya amal perbuatan itu hanya tergantung niat." Demikianlah, ungkapan jujur yang memberikan batasan. Maksudnya, semua perbuatan dan ucapan itu tidak dianggap benar, sempurna, dan dapat diterima di sisi Allah, kecuali berdasarkan niat-niat yang baik serta faktor-faktor yang mulia. Niat bermakna menyengajakan berbuat sesuatu berbarengan dengan mengerjakannya. Nilai amal itu bersumber dari niat-niat yang tersembunyi dibaliknya.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata :"Aku menyukai setiap orang yang melakukan amal berupa shalat atau puasa atau sedekah atau jenis kebaktian apa pun, asalkan sebelum melakukannya sudah didahului dengan niat." Al-Fadhel bin Ziyad pernah bertanya kepada imam Ahmad bin Hanbal : "Wahai Abu Abdillah, bagaimanakah niat itu di dalam amal?" Beliau menjawab, "Jika hendak melakukan suatu amal, seseorang harus konsentrasi penuh dengan mengabaikan sesama manusia."

Sufyan ats-Tsauri berkata :"Aku tidak pernah mengatasi sesuatu yang begitu memberatkan aku melebihi niat. Karena, niat itu membolak-balikkan aku."
Pada suatu hari Nafi’ bin Jubair ditanya oleh temannya yang hendak melayat jenazah : "Apakah Anda hendak melayat jenazah? " Nafi menjawab, "Ya, seperti yang kau lihat. Namun, aku harus niat terlebih dahulu." Setelah nampak berpikir dan berkonsentrasi sebentar, tiba-tiba ia berkata, "Ayo kita berangkat!." Dan dengan penuh semangat ia begitu yakin bahwa langkahnya benar-benar tulus, tanpa dicampuri oleh tujuan-tujuan yang lain.
"Dan sesungguhnya, setiap orang hanya akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya." Artinya, kebaikan dan kerusakan suatu amal itu tergantung dari niat yang mendorongnya. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa balasan pahala yang diperoleh oleh orang yang ber-amal atas amal-nya itu tergantung dari niat-nya yang baik. Begitupun sebaliknya, siksa yang harus ditimpakan kepadanya tergantung dari niat-nya yang jelek. Pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain adalah niat. Seperti beda antara shalat ashar dengan shalat zhuhur, atau beda antara puasa Ramadhan dengan puasa sunnat, atau beda antara puasa untuk membayar kafarat, dengan puasa melaksanakan nadzar, atau juga beda antara shalat sunnat dengan shalat fardhu.

Dengan niat pula, bisa dibedakan antara ibadah dengan tradisi atau kebiasaan. Contohnya, seperti beda antara mandi junub dengan mandi yang hanya untuk memperoleh kesegaran tubuh atau mandi untuk membersihkan badan. Atau juga seperti beda antara puasa untuk menjalankan kewajiban, dengan puasa untuk memperoleh kesaktian atau untuk penyembuhan penyakit misalnya.
Dan dengan niat pula lah, bisa dibedakan tujuan suatu amal, dan bisa ditentukan pula kemana arahnya. Apakah itu untuk mencari keridhaan Allah semata atau untuk selain-Nya? dan tidak ada sedikitpun tujuan karena Allah disitu. Atau amal itu untuk berbarengan antara Allah dengan selain-Nya? Niat dalam arti seperti inilah, yang mengungkapkan keikhlasan, sebagaimana yang lazim dilakukan oleh para ulama yang membimbing kepada kebenaran, dan yang banyak berlaku dalam ucapan ulama-ulama salaf terdahulu. Niat dalam arti seperti inilah, yang sering disebut-sebut dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi saw sebagai sebuah ungkapan hasrat untuk mencari keridhaan Allah SWT.  
Allah SWT berfirman : "Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian juga ada orang yang menghendaki akhirat"   
"Dan janganlah kau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya"   
"Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi"

Setiap Amalan Tergantung Niatnya


Dari Amirul Mu’minin Abu Hafs ‘Umar ibnu Al-Khathab radhiyalallahu ta’ala ’anhu berkata: “Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:‘Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan’” (HR. Bukhari dan Muslim)
 

Keistimewaan Hadits Ini 
Hadits ini merupakan hadits yang sangat agung, Imam Ahmad berkata: Pokok ajaran Islam terdapat pada 3 hadits:
  1. Hadits 'Umar, Setiap amalan tergantung pada niatnya
  2. Hadits 'Aisyah, Barangsiapa yang membuat suatu amalan dalam islam yang tidak ada asalnya maka amalan tersebut tertolak
  3. Hadits Nu'man bin Basyir, Perkara halal jelas dan perkara haram jelas, diantara keduanya ada perkara yang masih samar-samar
Hal ini karena Islam terdiri dari melaksanakan perintah, menjauhi larangan serta berhenti dari hal yang masih samar darinya yakni perkara mutasyabihat sebagaimanana hadits Nu’man bin Basyir, kemudian dalam melaksanakan hal-hal tersebut dinilai dari 2 sisi, lahir dan bathin, penilaian dari sisi bathin dengan hadits Umar dan penilaian sisi lahir dengan hadits ‘Aisyah, sehingga lengkaplah pokok ajaran Islam dalam 3 hadits tersebut. 

Niat 
Niat menurut istilah syar'i adalah bermaksud kepada sesuatu yang disertai perbuatan. Jika bermaksud kepada sesuatu tetapi tidak disertai perbuatan maka ini dinamakan azzam. 

Imam Nawawi menjelaskan bahwa sabda Rasulullah shalallahu wa 'alaihi wa sallam Setiap amalan tergantung niatnya dibawa pada sihhatul a’mal (sahnya amalan) atau tashhihul a’mal (pembenaran amal) atau qabulul a’mal (diterimanya amalan) atau kamalul a’mal (sempurnanya amalan). 

Amalan disini adalah amalan yang dibenarkan syariat, sehingga tidaklah diterima amalan yang dilarang syariat dengan dalih niatnya benar, misalkan seorang kepala rumah tangga yang berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya akan tetapi dengan cara mencuri, kemudian dia berdalih “Niat saya kan baik, untuk menafkahi istri dan anak-anak” 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utaimin menjelaskan: Dari sabda Nabi shalallahu wa 'alaihi wa sallam Setiap amalan tergantung niatnya dapat diambil kesimpulan bahwa setiap amalan terjadi karena adanya niat pelakunya. Dalam hadits ini terdapat bantahan kepada orang yang selalu was-was, kemudian melakukan amalan beberapa kali, lalu syaitan membisikan kepadanya Sesungguhnya kamu belum berniat. Kita katakan kepada mereka: Tidak, tidak mungkin kalian beramal tanpa niat. Oleh karena itu permudahlah bagi kalian dan tinggalkanlah wa was-was seperti ini. 

Adapun tempat niat di dalam hati dan melafadzkannya merupakan bid'ah. Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu'anhu bahwa ia mendengar orang berkata dalam ihramnya, Ya Allah, aku berniat haji atau umrah, Ibnu Umar berkata kepada orang tersebut, Apakah engkau memberitahu manusia? Bukankah Allah lebih mengetahui terhadap apa saja yang ada di jiwamu?
 

Jenis-jenis Niat 
Para ulama membahas niat dengan 2 makna:
  1. Niat yang berarti tujuan amalan tersebut apakah hanya untuk Allah atau disertai tujuan lainnya misalnya riya dan sum’ah
  2. Niat yang merupakan pembeda antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lain atau membedakan antara adat kebiasaan dengan ibadah.
Niat, untuk siapa amalan tersebut 
Niat amalan yang disertai riya maka akan menghapus pahala. Adapun riya ada 2 jenis:
  1. Mengerjakan amalan karena riya
  2. Mengerjakan amalan karena Allah dan riya
Semua jenis riya ini akan menghapuskan pahala. 

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyalallahu 'anhu dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: 
”Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa mengerjakan amal perbuatan dimana ia menyekutukan orang lain bersama-Ku di dalamnya, Aku meninggalkannya bersama sekutunya”
 

An-Nasai meriwayatkan hadits dari Abu Umamah radhiyalallahu ta'ala 'anhu, Ia berkata Seseorang datang kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata, Bagaimana pendapatmu tentang orang yang berperang karena mencari pahala dan nama, apa yang ia dapatkan? Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Ia tidak mendapatkan apa-apa. Beliau bersabda lagi, Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali amal perbuatan yang ikhlas dan dimaksudkan untuk mencari keridaan-Nya (AL-Hafidz Al-Iraqi menghasankan hadits ini dalam Takhriju Ahaditsil Ihya)
 

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyalallahu 'anhu bahwasanya dia berkata, aku mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Manusia yang pertama kali di adili pada hari Kiamat ialah orang yang mati di medan laga. Ia didatangkan kemudian Allah memberitahu nikmat nikmat-Nya kepadanya dan iapun mengakuinya. Allah berfirman, “Apa yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu hingga aku gugur sebagai syahid”. Allah berfirman, “Engkau bohong, engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan betul bahwa engkau sudah dikatakan sebagai pemberani”. Kemudian diperintahkan agar orang tersebut diseret dan tersungkur wajahnya sampai ke neraka. Dan juga orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membawa Al-Quran, orang tersebut didatangkan, kemudian Allah memberitahu nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan iapun mengakuinya. Allah berfirman “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Aku mempelajari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Quran dijalan-Mu”. Allah berfirman, “Engkau bohong, engkau mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai alim dan membaca Al-Quran agar dikatakan sebagai qari dan betul ngkau telah dikatakan seperti itu. Kemudian diperintahkan agar orang tersebut diseret dan tersungkur wajahnya sampai ke neraka. Juga orang yang diberi kemudahan oleh Allah dan diberi dengan berbagai macam harta. Orang tersebut didatangkan kemudian Allah memberitahukan nikmat-nikmat-Nya kepadanya dan iapun mengakuinya. Allah berfirman, “Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Aku tidak pernah meninggalkan salah satu jalan yang Engkau sukai kalau harta diinfakkan di jalan tersebut melainkan Aku menginfakkan harta didalamnya”. Allah berfirman, “Engkau bohong, engkau melakukan seperti itu agar dikatakan sebagai dermawan, dan betul telah dikatakan kepadamu sebagai orang yang dermawan”. Kemudian diperintahkan agar orang tersebut diseret dan tersungkur wajahnya sampai ke neraka.
 

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa ketika Muawiyah diberitahu tentang hadits ini, ia menangis hingga pingsan. Ketika siuman, ia berkata, “Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya”, Allah azza wa jalla berfirman, 
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka” (Huud: 15-16)
 

Sebagaimana halnya riya, sum’ah juga dapat menghapus pahala amalan. Sum’ah adalah mengerjakan amalan untuk Allah dalam kesendirian (tidak dilihat manusia), kemudian dia menceritakan amalannya itu kepada manusia. Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 
“Barangsiapa berbuat sum’ah (menceritakan amalannya kepada orang lain), maka Allah akan menceritakan aibnya dan barangsiapa berbuat riya’ (memperlihatkan amalannya kepada orang lain), maka Allah akan memperlihatkan aibnya” (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)
 

Para ulama berkata, “Jika seorang alim yang menjadi teladan, dan ia menyebutkan amalannya itu dalam rangka mendorong orang-orang yang mendengarnya agar mengerjakan amalan tersebut, maka ini tidaklah mengapa” (Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah, Imam Nawawi) 

Bagaimana jika seseorang pada awalnya ikhlas karena Allah akan tetapi kemudian muncul riya ketika amalan sedang dilakukan? Apakah amalannya diterima? As-Samarqandi rahimahullah berkata: Amalan yang diniatkan untuk Allah ta'ala diterima, sedangkan amalan yang dia niatkan untuk manusia, maka tertolak. Sebagai contoh orang yang mengerjakan shalat Dzuhur dengan tujuan mengerjakan kewajiban yang diberikan oleh Allah ta'ala kepadanya. Dalam shalatnya, dia memanjangkan rukun-rukun dan bacaannya serta membaguskan gerakannya karena ingin dipuji orang yang melihatnya. Maka orang seperti ini, amalan shalatnya diterima, tetapi panjang dan bagusnya shalat yang dilakukan karena manusia tidaklah diterima. (Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah, Imam Nawawi) 

Niat, Pembeda ibadah dengan ibadah lainnya atau ibadah dengan adat 
Niat dapat merupakan pembeda ibadah yang satu dengan ibadah lainnya atau ibadah dengan adat kebiasaan. Misalnya seseorang shalat 2 rakaat, shalatnya dapat berupa shalat Tahiyatul Masjid ataupun Shalat Rawatib, yang membedakan adalah niatnya. 

Niat juga dapat membedakan antara pekerjaan sehari-hari berupa adat kebiasaan dengan ibadah. Sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam , ``Dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan niatnya``, merupakan penjelasan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan apa-apa dari perbuatannya kecuali apa yang ia niatkan. Sebagai contoh, jika sesorang jima' dengan istrinya, menutup pintu, mematikan lampu ketika hendak tidur dan amalan-amalan lain yang disebutkan dalam nash-nash yang jika itu diniatkan untuk melaksanakan perintah Allah maka ia mendapatkan pahala, adapun jika diniatkan untuk selain itu maka ia tidak mendapatkan pahala. 

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Dzar secara Marfu': 
Dan menggauli istri juga sedekah. Mereka bertanya, Wahai Rasulullah, apakah jika salah seorang diantara kita melampiaskan syahwatnya, ia akan mendapatkan pahala? Beliau menjawab Beritahukan kepadaku apa pendapat kalian jika ia menyalurkannya pada tempat yang haram, bukankah ia mendapat dosa? Demikian pula, jika ia menyalurkannya pada tempat yang halal, maka iapun akan mendapat pahala. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ahmad).
 

Dan juga hadits dari Jabir secara Marfu': 
Tutuplah pintu dan sebutlah Nama Allah azza wa jalla karena syaitan tidak dapat membuka pintu yang ditutup, matikan lampu-lampumu dan sebutlah nama Allah, tutuplah bejanamu meskipun hanya dengan tongkat yang kamu letakkan di atasnya dan sebutlah nama Allah, dan ikatlah gerabimu dan sebutlah nama Allah (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)
 

Hijrah 
Setelah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kaidah bahwa setiap amalan tergantung niatnya, Beliau memberikan contoh berupa hijrah, Barangsiapa yang berhijrah hanya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan 

Asal kata hijrah adalah meninggalkan negeri syirik dan pindah ke negeri Islam. Hijrah dari negeri kafir wajib jika seseorang tidak mampu menampakkan agamanya dengan melakukan syiar-syiar Islam, seperti adzan, shalat jamaah, shalat 'Ied dan syiar-syiar Islam lainnya. 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengatakan maka hijrahnya itu menuju yang ia niatkan terdapat unsur penghinaan kepada dunia yang menjadi motivasinya, tidak seperti kata Allah dan Rasul-Nya yang diulang. 

Pelajaran yang dapat diambil dari hadits ini:
  1. Setiap amalan dilakukan pasti dengan adanya niat sebagaimana hadits Setiap amalan tergantung niatnya. Niat tempatnya di hati dan melafadzkannya adalah bid'ah.
  2. Pentingnya mengikhlaskan setiap amalan hanya kepada Allah
  3. Peringatan bahaya riya dan sum'ah, seseorang tidak hanya amalannya tidak terima ketika dibarengi dengan riya akan tetapi juga mendapat adzab sebagaimana hadits dari Abu Hurairah tentang 3 kelompok manusia yang beramal dengan amalan utama akan tetapi tidak ikhlas.
  4. Pentingnya menuntut ilmu karena dengan ilmu dapat diketahui pahala amalan-amalan yang sering dilakukan sebagai adat sehari-hari, amalan tersebut tidak akan mendapat pahala jika kita tidak mengetahui ilmunya dan meniatkan untuk melaksanakan perintah Allah.
  5. Niat menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan. Ibadah mendapat pahala sedangkan kebiasaan tidak mendapatkan pahala.
  6. Pengajar hendaknya memberikan contoh-contoh ketika menjelaskan sebuah hukum sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam memberikan contoh hijrah ketika menjelaskan masalah niat.
  7. Hijrah merupakan amalan salih jika niatnya benar