Menguak nilai-nilai dalam novel “99 Cahaya di Langit Eropa”

Tuesday, November 26, 2013


Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menentukan apa yang aneh pada lukisan itu.

“Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,” ungkap Marion akhirnya.

Apa yang anda bayangkan jika mendengar “Eropa”? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?
Bagi saya, Eropa adalah sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan saya, Islam.
Dalam perjalanan itu saya bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.
Pada akhirnya, anda akan menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum.

99 Cahaya di Langit Eropa, sebuah novel islami tentang perjalanan menapak jejak islam yang menakjubkan dengan menunjukkan keberagaman kebudayaan yang berjalan seiring perkembangan teknologi canggih, saling mengisi, menentukan masa depan suatu peradaban. Inilah sebuah pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua Eropa. Sebuah perjalanan dalam mengeksplorasi kejayaan Islam di Eropa. Pada masa kejayaan Islam dimana pasukan islam berhasil menaklukan Konstantinopel dan Roma.
Pengalaman Si Hanum dan Rangga menelusuri rute, bermula di Wina berlanjut ke Paris, Cordoba, Granada hingga Istanbul Turki. Dalam novel ini diuraikan pula bukti-bukti kejayaan Islam yang tertuang secara detail mulai dari bangunan, lukisan Kara Mustafa Pasha hingga mantel Raja Roger II yang berkaligrafi arab sehingga tidak terbantahkan bahwa Islam pernah bercahaya di langit Eropa.
Selain fakta-fakta tentang sejarah islam, selain itu novel ini terkandung nilai-nilai rohani dan nilai moral yang dapat kita petik secara bersamaan.  Mari kita simak kutipan dari novel “99 Cahaya di Langit Eropa” berikut ini.
“Dia begitu antusias mengambil gambar di setiap sudut gereja lewat kamera yang kutitipkan padanya. Sebuah perasaan yang tak bisa kugambarkan seketika menghinggapi diriku. Tentang Fatma dan seluruh sikapnya yang membantah kekhawatiran akan prinsipnya tentang islam. Dia begitu ringan memahami agamanya tanpa tanpa menyulitkan diri sendiri, tidak semua orang muslim mempunyai pandangan sama, bahwa mereka boleh memasuki tempat ibadah umat agama lain hanya karena niat untuk mencari perlindungan diri dari serangan hawa dingin”.
Jadi inikah rencana Fatma? Cara membalas dendam macam apa ini?”
Kebingungan sang penulis akan kelakuan suatu keputusan yang sangat bijak oleh kawannya, Fatma, ia membalas para turis yang telah mengolok-ngolok islam, dengan membayarkan hasil pesanan mereka dan menuliskan sepucuk surat pendek untuk mereka yang bertuliskan “Hai Iam Fatma, a muslim from Turkey” dan menyertakan alamat e-mailnya. Dari sini pula kita dapat memetik buah segar tentang penting dan berharganya kebaikan, sebuah kejahatan apapun dibalas dengan kebaikan, karena Allah swt telah berjanji dalam ayatnya.
“Sesungguhnya rahmat Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Banyak hal yang bisa dipetik dari novel ini. Mulai dari misi menjadi agen muslim yang baik, membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin, rahmat untuk alam semesta hingga pemahaman bahwa ilmu pengetahuan dan agama seharusnya saling mendukung dan bukan dipertentangkan. Bukankah Al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk “membaca” dan ada hadits yang menyatakan bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan?
           Pernik-pernik fakta menarik yang tidak semua orang tahu menjadi nilai tambah. Penulis juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat menggiring pembaca kepada perspektif baru akan suatu kepercayaan dan perbedaan.
Ketulusan penulis untuk membagikan pengalamannya, saya yakin akan mengingatkan dan menumbuhkan kembali rasa bangga menjadi seorang muslim dan betapa indahnya agama Islam disaat persepsi-persepsi negatif bermunculan.
           Al-Quran mengajarkan kita tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan jalan damai. Tidak peduli kita berada dipihak yang menang ataupun kalah, yang penting kita bisa bangkit dan bisa mengambil pelajaran dari masa lalu.
Novel karya Hanum dan Rangga ini memiliki banyak sekali nilai-nilai bijak yang menakjubkan secara tertulis maupun tersirat. Bagaimana menjadi agen islam yang baik dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun itu. Percaya bahwa Allah Maha Adil, setiap kebaikan yang kita laksanakan akan berbuah kebaikan pula.
Semoga dengan tulisan singkat ini, hati kita akan tergugah dan menjadi teguh untuk menjalakan janji-janji Allah swt.


4 komentar:

  1. Alhamdulillah...akhirnya Anda bisa menulis esai ini...boleh juga.....Yuk asah terus..jangan pernah berhenti berkarya! ketemu lagi di tulisan berikutnya...

  1. Unknown said...:

    Tema yang diangkat menarik, tata bahasanya juga bagus. Keren. ^_^

  1. Unknown said...:

    kereen kawaan :D
    novel yang diangkat juga keren, keren semua :)

  1. esai yang bagus kawan, dan pertahankan itu semua (y)

Post a Comment