Aku mengucek-ucek mata.
Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi
saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan
berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menentukan apa yang aneh pada
lukisan itu.
“Percaya atau tidak,
pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah,
Hanum,” ungkap Marion akhirnya.
Apa yang anda bayangkan jika
mendengar “Eropa”? Eiffel? Colosseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?
Bagi saya, Eropa adalah
sejuta misteri tentang sebuah peradaban yang sangat luhur, peradaban keyakinan
saya, Islam.
Dalam perjalanan itu saya
bertemu dengan orang-orang yang mengajari saya, apa itu Islam rahmatan lil
alamin. Perjalanan yang mempertemukan saya dengan para pahlawan Islam pada masa
lalu. Perjalanan yang merengkuh dan mendamaikan kalbu dan keberadaan diri saya.
Pada akhirnya, anda akan
menemukan bahwa Eropa tak sekadar Eiffel atau Colosseum.
99 Cahaya di Langit Eropa,
sebuah novel islami tentang perjalanan menapak jejak islam yang menakjubkan
dengan menunjukkan keberagaman kebudayaan yang berjalan seiring perkembangan teknologi
canggih, saling mengisi, menentukan masa depan suatu peradaban. Inilah sebuah pencarian
99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua Eropa. Sebuah
perjalanan dalam mengeksplorasi kejayaan Islam di Eropa. Pada masa kejayaan
Islam dimana pasukan islam berhasil menaklukan Konstantinopel dan Roma.
Pengalaman
Si Hanum dan Rangga menelusuri rute, bermula di Wina
berlanjut ke Paris, Cordoba, Granada hingga Istanbul Turki. Dalam novel ini
diuraikan pula bukti-bukti kejayaan Islam yang tertuang secara detail mulai
dari bangunan, lukisan Kara Mustafa Pasha hingga mantel Raja Roger II yang
berkaligrafi arab sehingga tidak terbantahkan bahwa Islam pernah bercahaya di
langit Eropa.
Selain fakta-fakta tentang
sejarah islam, selain itu novel ini terkandung nilai-nilai rohani dan nilai moral
yang dapat kita petik secara bersamaan. Mari kita simak kutipan dari novel “99 Cahaya
di Langit Eropa” berikut ini.
“Dia begitu antusias
mengambil gambar di setiap sudut gereja lewat kamera yang kutitipkan padanya.
Sebuah perasaan yang tak bisa kugambarkan seketika menghinggapi diriku. Tentang
Fatma dan seluruh sikapnya yang membantah kekhawatiran akan prinsipnya tentang
islam. Dia begitu ringan memahami agamanya tanpa tanpa menyulitkan diri
sendiri, tidak semua orang muslim mempunyai pandangan sama, bahwa mereka boleh
memasuki tempat ibadah umat agama lain hanya karena niat untuk mencari
perlindungan diri dari serangan hawa dingin”.
“Jadi inikah rencana
Fatma? Cara membalas dendam macam apa ini?”
Kebingungan sang penulis akan kelakuan suatu keputusan yang sangat bijak oleh kawannya, Fatma, ia membalas para turis yang telah mengolok-ngolok islam, dengan membayarkan hasil pesanan mereka dan menuliskan sepucuk surat pendek untuk mereka yang bertuliskan “Hai Iam Fatma, a muslim from Turkey” dan menyertakan alamat e-mailnya. Dari sini pula kita dapat memetik buah segar tentang penting dan berharganya kebaikan, sebuah kejahatan apapun dibalas dengan kebaikan, karena Allah swt telah berjanji dalam ayatnya.
Kebingungan sang penulis akan kelakuan suatu keputusan yang sangat bijak oleh kawannya, Fatma, ia membalas para turis yang telah mengolok-ngolok islam, dengan membayarkan hasil pesanan mereka dan menuliskan sepucuk surat pendek untuk mereka yang bertuliskan “Hai Iam Fatma, a muslim from Turkey” dan menyertakan alamat e-mailnya. Dari sini pula kita dapat memetik buah segar tentang penting dan berharganya kebaikan, sebuah kejahatan apapun dibalas dengan kebaikan, karena Allah swt telah berjanji dalam ayatnya.
“Sesungguhnya rahmat
Allah Swt amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Banyak hal yang bisa dipetik dari novel
ini. Mulai dari misi menjadi agen muslim yang baik, membuktikan bahwa Islam
adalah rahmatan lil alamin, rahmat untuk alam semesta hingga pemahaman
bahwa ilmu pengetahuan dan agama seharusnya saling mendukung dan bukan
dipertentangkan. Bukankah Al-Qur’an sendiri memerintahkan untuk “membaca” dan
ada hadits yang menyatakan bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslim laki-laki
dan perempuan?
Pernik-pernik fakta menarik yang tidak semua orang tahu menjadi nilai tambah. Penulis juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat menggiring pembaca kepada perspektif baru akan suatu kepercayaan dan perbedaan.
Pernik-pernik fakta menarik yang tidak semua orang tahu menjadi nilai tambah. Penulis juga memberikan nilai-nilai moral yang dapat menggiring pembaca kepada perspektif baru akan suatu kepercayaan dan perbedaan.
Ketulusan penulis untuk membagikan pengalamannya,
saya yakin akan mengingatkan dan menumbuhkan kembali rasa bangga menjadi
seorang muslim dan betapa indahnya agama Islam disaat persepsi-persepsi negatif
bermunculan.
Al-Quran mengajarkan kita tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan jalan damai. Tidak peduli kita berada dipihak yang menang ataupun kalah, yang penting kita bisa bangkit dan bisa mengambil pelajaran dari masa lalu.
Al-Quran mengajarkan kita tentang bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan jalan damai. Tidak peduli kita berada dipihak yang menang ataupun kalah, yang penting kita bisa bangkit dan bisa mengambil pelajaran dari masa lalu.
Novel karya Hanum dan Rangga ini
memiliki banyak sekali nilai-nilai bijak yang menakjubkan secara tertulis
maupun tersirat. Bagaimana menjadi agen islam yang baik dimanapun, kapanpun dan
dengan siapapun itu. Percaya bahwa Allah Maha Adil, setiap kebaikan yang kita
laksanakan akan berbuah kebaikan pula.
Semoga
dengan tulisan singkat ini, hati kita akan tergugah dan menjadi teguh untuk
menjalakan janji-janji Allah swt.

Alhamdulillah...akhirnya Anda bisa menulis esai ini...boleh juga.....Yuk asah terus..jangan pernah berhenti berkarya! ketemu lagi di tulisan berikutnya...